Home » , , , » Cerpen : Kisah Cinta Semu

Cerpen : Kisah Cinta Semu

Written By Kaharuddin Syam on Jumat, 06 Juni 2014 | 05.12.00


Karya   :

Wah! Itu dia, sungguh indahnya!” Aku terpaku di dalam lamunanku saat menatap dia lewat di depanku, sambil bergumam menikmati keindahan dan cantik wajahnya. Namanya Ina, yah begitulah samar-samar kudengar temannya memanggilnya, sampai saat ini, aku belum sempat berkenalan dengannya. Aku hanya mengaguminya tanpa ia sadari. Bahkan ia tak pernah melirikku sekalipun.
Mata yang berbinar, kulitnya yang halus dan putih kekuning-kuningan. Sungguh cantik sekali. Kibasan rambutnya yang hitam lurus sebahu, menambah pesonanya. Senyumnya yang indah dengan behel di giginya, sangat membuatku terpana. Tetapi yang lebih membuatku terpesona adalah tahi lalat yang berada di samping kiri hidungnya.
Selalu aku bertanya pada diriku sendiri “Mengapa aku tidak berani berbicara padanya?” Keberanianku selalu surut setiap melihatnya. Tapi aku sadar tentu bahwa derajatku dengan dia sungguh jauh berbeda. Ia bersekolah di salah satu sekolah swasta ternama di kotanya, sedangkan aku? Hanyalah lelaki pas-pasan dengan bersekolah di sekolah biasa di kotaku sendiri.
Mungkin inilah suka pada pandangan pertama, tetapi berbicara pun dengannya belum aku alami. Padahal kami bertemu hanya kebetulan, lomba ini mempertemukanku denganya, jika lomba ini berakhir, kesempatanku akan berakhir. Kami akan kembali ke kota masing-masing dan tidak akan bertemu lagi. Padahal hanya satu keinginanku, untuk berbicara dengannya.
Perlombaan ini adalah lomba debat bahasa inggris, dan kebetulan saya lolos ke tingkat provinsi. Aku berjalan di koridor ruangan perlombaan, berjalan santai sambil melirik ke ruang-ruang perlombaan yang telah dimulai, aku melihat peserta dengan serius mengikuti perlombaan. Maklum, giliranku untuk berlomba masih lama, aku masuk ke gelombang ketiga, sedangkan perlombaan masih gelombang pertama.
Kulihat keadaan sangat sepi, sambil berdiri didepan papan perlombaan, iseng-iseng aku mengeluarkan handphone lalu memasang headset di telinga, lalu memutar lagu favoritku berjudul “butiran debu” yang dipopulerkan oleh penyanyi ternama bernama Rumor. Saking asiknya mendengar lagu aku bergumam mendendangkan lagu tersebut. Tapi aneh, sepertinya ada seorang cewek disampingku berdiri juga menatap papan perlombaan, sepertinya dia menatapku, aku pun malu melirik ke dia. “Itu……. Lagu….. suka… butiran debu kan?” kata cewek itu samar-samar terdengar. Karena lagu yang kuputar cukup keras maka suaranya terdengar kecil. Kubuka headsetku lalu berkata “Maaf? Anda berkata apa yah?” sambil menoleh melihatnya dan ternyata…… Dia Ina! Gadis yang ku suka. Mimpi apa aku semalam.
nggak, aku suka lagu yang kamu dengar tadi, butiran debu khan?” kata Ina. “ Iah, lagu yang dipopulerkan Rumor, aku suka sekali lagu ini, biasalah lagu anak gaul jaman sekarang hehee” balasku. “ Yang paling aku suka di bagian reff-nya, yang begini, aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam gitu khan?” kata Ina sambil mendendangkan lagunya, wah suaranya sungguh menawan aku terpana seakan merasa menjadi naga terbang menembus langit yang biru. Lalu aku pun melanjutkan menyanyikan lagu itu “aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang aku tanpamu butiran debu” Sambil kugerakkan tanganku membentuk hati yang patah. Kami pun tertawa berdua. Lalu kami saling berkenalan dan bercerita bersama.
Lama kami bercerita akhirnya giliran Ina telah tiba, dia pun pamit untuk menuju keruang perlombaan. Aku berkata “Semoga kamu menang yah! Semangat Ina!” dia pun menjawab “makasih! Doakan yah?”. Bahagia sekali perasaanku, sungguh hal yang kuharapkan benar-benar terjadi, berbicara dengan gadis cantik itu menjadi kenyataan. Tapi belum lama Ina pergi, guruku memanggilku “Arul, sekarang giliranmu, cepat ke ruang 4, lawanmu sudah berkumpul disana”. Aku menjawab dengan senang “oke deh bu’ ayo kita keruang 4, saya sudah siap berlomba dengan siapapun!” Maklumlah, sedang senang karena Ina tadi, aku pun jadi ceria.
Akupun masuk ke ruang lomba dengan santai tanpa beban, tapi saat kulihat kelompok lawan, ternyata kelompok Ina yang akan kami hadapi di perlombaan ini. “ APA? Oh shit, Ina. Gimana nih, mampus gua nih” gumamku dalam hati melihat Ina tersenyum kepadaku. Bagaimana mungkin dari sekian banyak sekolah, ternyata kami berlawanan dengan kelompoknya Ina. Aku pun duduk di kursi dengan tegang sambil tersenyum ke Ina sebenarnya bukan tersenyum, tetapi lebih ke meringis meratapi nasibku yang harus berhadapan dengan cewek yang bisa dibilang “Perusak Konsentrasiku”. Bagaimana tidak merusak, dari tadi sebelum lomba, bukannya memikirkan perlombaan, yang kupikirkan hanya Ina dan sekarang dia muncul didepanku menjadi pesaingku. Beginilah nasib seorang pencinta wanita.
Baiklah, kedua tim sudah siap untuk memulai. Bapak akan membacakan peraturan perlombaannya” Kata panitia perlombaan. Lomba pun dimulai, kebetulan sekali dan mungkin memang ini nasibku yang harus menerimanya, Ina yang pertama menyampaikan argumen, dan kami pun harus memperhatikannya. Aku memang memperhatikannya dengan seksama, tetapi pikiranku pun akhirnya melenceng, bukannya memikirkan topiknya tetapi aku menatap wajah Ina dengan sangat dalam.
Caranya menyampaikan argumen dengan bahasa tubuh yang gemulai, tangannya yang indah dengan jari-jari lentiknya senantiasa bergerak saat dia menjelaskan, raut wajahnya yang berubah-ubah saat menyampaikan argumen membuatku tidak bosan untuk memandangnya. Entahlah tentang apa yang dia bicarakan, yang ada dipikiranku saat ini hanyalah kekaguman yang melanda jiwaku.
Bel dibunyikan tanda waktu untuk Ina memberi argumen telah selesai, berarti kini giliran kelompokku memberi argumen. Untunglah, bukan aku yang bertugas untuk menyampaikan argumen. Mulailah anggota kelompokku menyampaikan argumen kami. Tapi seperti sebelumnya, pikiranku keluar dari jalur perlombaan, aku menatap Ina yang juga sedang menatapku, ia tersenyum lembut sambil menyelipkan rambutnya disela-sela telinganya lalu menunduk malu. Aku pun tersenyum lebar melihat pesonanya. Sungguh momen yang sangat berkesan, tetapi semua berubah saat bel berbunyi menyerangku.
Aku pun panik, terusik, seakan bersisik mendengar bel itu, mengganggu kesenangan saja. Kini giliranku untuk membantah argumen lawan tetapi apa yang harus aku katakan? Topik yang mereka jelaskan saja tidak aku mengerti, seandainya aku disuruh untuk menjelaskan detail kecantikan Ina, pasti aku bisa. “Bro! Topik yang mereka sampaikan tadi apa? Ayolah, aku gak tau apa-apa nih!” aku bertanya pada anggota kelompokku dengan sangat panik. Temanku menjawab “Wah, keterlaluan kamu, dari tadi apa yang kamu perhatikan? Topik mereka tentang setuju bahwa keindahan panorama Indonesia yang harus dimanfaatkan untuk tempat wisata begitulah”. Aku terpaku, membeku dan sangat ragu-ragu. Keringat dingin mengucur tubuhku, akhirnya dengan modal nekat, aku pun menyampaikan bantahanku, dengan modal topik “keindahan”saja di otakku.
Sambil menatap wajah cantik nan indah Ina, sambil tersenyum ke dia aku pun menyampaikan argumenku. Yah, sudah kita tahu, bahwa aku akan asbun yaitu asal bunyi. “Oke, beauty. We talk about beauty. Beauty for me……. is when i see her eyes, I  feel like fly to the sky………. When I see her smile,……… I feel like I am the most lucky man in the world, that’s beauty for me. Thank you” Sontak semua orang di dalam ruangan terdiam, kaget, bukan karena apa, tetapi seluruh yang saya sampaikan tidak berhubungan dengan topik “Keindahan panorama Indonesia untuk dimanfaatkan” tetapi yang aku bicarakan adalah “Keindahan wanita pujaan hati” Maka meledaklah tawa seluruh peserta maupun penonton di ruangan itu, aku melihat Ina menggeleng-geleng dengan raut wajah kasihan melihatku, tetapi di tersenyum menggambarkan dia tersentuh dengan kata-kataku. Aku menunduk, malu, dan berharap semua ini berakhir.
            Diluar gedung perlombaan aku terduduk lesu sambil menundukkan kepala, kekecewaanku karena perlombaan tadi menusuk sanubariku. Mengapa ini semua harus terjadi? Kelompokku gagal untuk melanjutkan perlombaan. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Kota ku sore hari itu juga. Aku akan pulang sendiri dengan patas, karena teman dan guruku masih mengikuti perlombaan listening, writing dan cerdas cermat bahasa inggris. Hanya aku yang ikut satu perlombaan dan gagal. Tetapi disampingku seorang cewek datang dan merangkulku. Aku menoleh ternyata ia Ina. “It’s ok Arul. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, kata-kata yang kamu ucapkan tadi sungguh indah, apalagi saat kamu mengatakannya saat menatapku. Aku sangat tersentuh” kata Ina menyemangatiku. Aku menjawab “Makasih yah, hehee, tadi kata-kata itu langsung keluar, begitu aku menatap wajahmu, sepertinya kata-kata itu tergambar dari keindahan dirimu. Sepertinya”.
Aku berjalan bersama Ina disampingku, aku bercerita tentang kekecewaanku tadi. Ina bertanya padaku “Kamu udah mau pulang yah? Kalo boleh jangan dulu deh!”, aku balik bertanya “kenapa?”. Ina pun menawariku sesuatu “Kalo kamu mau, aku ingin mengajak kamu ketempat terindah disini, mau yah? Aku ingin menghiburmu karena kekecewaanmu tadi. Pemandangan tempat ini sangat indah. Aku anter deh”. Aku pun menerima tawarannya. Kami pun berangkat ke sana.
Benar kata Ina, tempat ini sangat indah. Ternyata ia mengajakku melihat pemandangan laut dari sudut yang pas, disini kami menunggu matahari tenggelam sambil dia bercerita kepadaku. “Tahu gak Arul? Tempat ini sangat bersejarah bagi aku. Aku ama almarhum papa sering kesini, dia berkata bahwa tak akan ada keindahan yang mengalahkan keindahan alam, yaitu ciptaan Tuhan. Dan keindahan sesungguhnya adalah dimana kita mengsyukuri segala sesuatu yang kita dapatkan baik itu kebaikan maupun hal yang kurang kita inginkan” Kata Ina bercerita panjang lebar kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca sambil menahan tangis. Aku bisa membaca dari matanya, ada kesedihan yang terbesit di hatinya dimana ia berusaha menahan gejolak kesedihan. Sepertinya ia berusaha untuk menerima kenyataan dalam hidupnya yang penuh kesedihan, berusaha menahan derita dan melupakan kenangan terburuknya, walau ia susah untuk melupakannya. Tetapi itu hanya perkiraanku melihat dia menahan tangis.
Arul, aku cuma ingin memberi kamu semangat, agar tidak cepat kecewa karena tadi, kamu pasti sedihkan apalagi malu sekali, jangan cepat menyerah yah?” Kata Ina sambil tersenyum lalu mengusap sedikit air matanya. Aku menjawab “Eh, kamu koq nangis sih? Gak papa lagi aku gak papa, palingan kecewa biasa nanti pasti udah semangat lagi. Kamu koq nangis, pasti karena aku khan?” kataku menggombalnya. Di tertawa, walau masih ada kesedihan tersirat dimatanya. “Kamu tahu gak, caramu menatapku tadi, dan kata-katamu tadi tentang keindahan, sangat mirip dengan papaku. Saat aku melihatmu, aku merasa berada dekat dengan papaku, aku merasa mendapatkan kembali orang yang aku sayang. Itulah aku mengajakmu kesini, karena aku ingin merasa sangat dekat dengan sosok sepertimu, aku jadi terbawa suasana mengingat papaku yang sepertimu berada ditempat favorit kami berdua”.
Dari kata-katanya, aku merasa senang, wanita pujaanku, yang aku impikan ternyata mengagumiku juga, walau sebatas mirip dengan sosok ayahnya, tapi tidak apalah, aku senang membuatnya bahagia. Kami pun terdiam membisu saling bertatapan kedua mata, aku pun menggenggam kedua tangannya, memandangnya dalam, aku tersenyum lembut ke dia dan kami kompak menoleh ke matahari yang hampir tenggelam, aku pun berkata ditengah keheningan. “ Sebenarnya di dunia ini tidak ada kata kecewa. Seperti aku tadi yang mengalami kegagalan, kita harus menghadapi dengan lapang dada, berusaha memperbaikinya dan mensyukuri segalanya, jadi tak akan ada kekecewaan bagaimana Ina? Setuju?” Ina pun tersenyum. Saat inilah aku menatapnya dengan sangat kagum, lebih kagum dari sebelumnya. Di tempat ini dia menjadi sangat cantik bahkan jauh lebih cantik dari pertama aku melihatnya. Suasana menjadi gelap. Keadaan berubah, semua pemandangan, semuanya hilang, semua menjadi redup hanya Ina yang terlihat didepanku, tetapi makin lama dia terlihat redup, lalu menghilang dengan senyuman manisnya. Sontak semua menjadi gelap, aku berasa berada diruangan yang gelap, tanpa ada benda apapun dan penerangan apapun. Aku menjadi bingung berbalik, menoleh dan melihat kiri dan kanan semua gelap. “Apa yang terjadi?”
“ Kriiiiing..Kriiiiing..kriiinnngggg.. krrriiiinnnnggggg “ Jam weker disampingku berbunyi membangunkanku dari mimpi indah tadi, aku melihat jam, pukul 05.15, aku terbangun dari tempat tidur lalu terduduk dan menunduk. Ternyata tidak ada perlombaan, ternyata tidak ada kekalahan diperlombaan dan ternyata tak ada pemandangan. Semuanya itu hanyalah mimpi, tetapi mimpi tersebut memberikan pelajaran untukku, bahwa kita sebagai manusia senantiasa bersyukur dengan apapun yang kita dapatkan, maka tak akan ada rasa kekecewaan. Yah , mimpi tadi sangat indah, apalagi gadis cantik yang saya kagumi bernama Ina, walaupun dia tidak nyata, tetapi mimpi tadi sangatlah berkesan. Saya pun bergegas mandi, bersiap untuk shalat.

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. WEBSITE RESMI AKSELERASI SMA NEGERI 2 PAREPARE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger