Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

CERPEN "KECEWA" KARYA FAMRI RUSDIN AKSELERASI ANGKATAN I

Written By Anonim on Selasa, 12 Agustus 2014 | 17.49.00



Matahari menemani aktivitas seorang cowok yang tinggi dan berambut lurus di pagi hari ini. Melihat dedaunan yang membentangkan sayap hijaunya. Dia menatap seorang siswi yang berambut panjang dan berhidung mancung duduk di bawah rindangnya pepohonan. Memasang muka murung penuh gelisah. Cowok itu meneruskan langkah menyapa siswi yang murung.
Dia menggerakkan kepala berpaling dari diri siswi yang galau itu, memandang jalan hitam teraspal yang belum selesai dia tempuh, dia kembali berjalan perlahan. Gesek demi gesek terlewati oleh sandal jepitnya yang ikut melangkah.
Setelah berjalan sekitar lima langkah dari orang tersebut, jiwanya terasa ada yang salah dengan orang itu. Dia pun menoleh dan kembali pada pada gadis siswi itu. Terlihat, siswa itu masih begitu murung. Dia mulai mengiburnya dengan gombalan-gombalan maut agar dia tak lagi murung! Tak dia sangka, sang gadis menatapnya marah
Lalu siswi itu berkata “emangnya aku maling, kamu tatap seperti itu”
Dia menatap dan berkata “iya kamu maling”
Si cowok balik menjawab “iya aku mau maling hati kamu” Candanya....
Dia melihat wajah murung siswi telah musnah. Entah karena gombalan mautnya  atau apa. Dia mulai berdiri menghampirinya. Dia pun merasa gembira dan berharap siswi akan memeluknya dengan mesra. Lima langkah lebih siswi itu berjalan di sampingnya dan bergandengan tangan dengan laki-laki lain yang ternyata pacar siswi  tersebut. Dia pun merasa malu dan menggantikan posisi itu yang duduk murung di bawah pohon itu.
Dia duduk di bawah pohon rindang sambil termenung memikirkan gadis siswi itu “Lara, mengapa engkau memiliki pacar, tidakkah engkau tau bahwa diriku menyukaimu” katanya dengan pelan. Dia menghaylkan lara  menjadi pacarnya, tapi nyatanya tidak. Dia hanya dapat berkhayal tingkat tinggi.
Dirinya yang ditunggu sejak dulu kini hanya membuatnya kecewa, sekarang lara hanyalah segenggam arang yang telah hangus terbakar dalam kekecewaan, dia yang menunggui dan menanti Lara sejak dulu, tidak bisa lagi untuk menahan semuanya.
Tak lama setelah memikirkan Lara si gadis impian Rey, dia pun bergegas menuju rumah temannya yang bernama Thiyo, anak laki-laki yang menjadi sahabat dari kecilnya.
“hey yo !”
“Hey Rey tumben kamu ke sini”
“ gini Yho saya pengen cerita denganmu tentang Lara !”
“ Lara? Lara anak kelas XII. IPA itu yah?” Jawab Thiyo
“Iya benar sekali” kata Rey
“Kenapa dengannya?” Tanya Thiyo.
Rey mengatakan kepada Thiyo bahwa dia telah jatuh pada Lara sejak pertama kali bertemu, tetapi dia tidak memiliki keberanian mengatakan perasaan sesungguhnya.
“Kalau begitu, kamu jujur saja tentang perasaan kamu ke Lara daripada kamu hanya memendam perasaanmu yang nantinya bisa jadi penyakit” Saran Thiyo.
“Aku sudah terlambat yo, Lara sudah memiliki kekasih” Kata Rey dengan sedih.
“Darimana kamu tau kalau Lara sudah punya kekasih?” Tanya Rio
Rey hanya menjawab dengan muka murung bahwa Dia melihat dengan kedua matanya Lara bergandengan tangan dengan seorang cowok. Mendengar curahan hati Rey, Thiyo berusaha membuat Rey sabar akan apa yang dialaminya. Menurut Thiyo bahwa semua akan indah pada waktunya.

Keesokan harinya disekolah, Rey terlihat sendiri di koridor sekolah, tiba-tiba Lara datang menghampirinya.
“Hey Rey, kok sendiri disini” sambil duduk menemani Rey.
“Hey Lara!” katanya gugup, kaget dan tak habis pikir ternyata dia Lara. Sambil menatap Lara
“woy ! Ada apa denganmu Rey?, kok mandangin saya begitu banget sih, “ahh tidak apa-apa kok” kata Rey dengan nada gugup
“Emang gue kayak setan yah?” bertanya dengan kesal.
“Aduh nggak Ra, Cuma kaget habis, saya tidak menyangka kamu datang samperin saya disini. yah saya kagetlah” kata Rey dengan ekspresi malunya
Setelah lama bercakap tentang buku yang dibaca Rey, dia pun permisi dengan Rey untuk segera masuk ke kelasnya. Dengan ragu-ragu ia menjawab “iya” Larapun segera berdiri dan mulai merapikan rok dan bajunya yang teracak gara-gara duduk di koridor. Setelah itu dia berjalan meninggalkan Rey. Tiba-tiba, Rey memanggil Lara dan segerah mengikutinya
“Lara!” Panggil Rey
 “Iyah, kenapa Rey?” jawab Lara
Dengan nada ragu-ragu ia pun mengungkapkan perasaannya pada Lara, ia berkata “Ra, maaf yah kalau saya lancang untuk bicara seperti ini padamu, tapi saya juga tidak bisa menahan perasaan saya kepadamu. Sejak dulu, sejak SMA kelas satu saya sudah suka padamu. Tiap hari saya selalu memandangimu dan mengintaimu, tapi saya malu untuk mengungkapkan itu pada kamu !”
Lara Cuma terdiam dan merasa heran tak menyangka Rey si cuek ternyata diam-diam suka padanya. Dia berlari meninggalkan Rey tanpa sepatah katapun, Rey Cuma diam dan menundukkan kepalanya karena malu.
Setelah Rey berhasil mengungkapkan persaannya, Ia segera bergegas ke rumah Thiyo dan menceritakannya.
“ Ada apa denganmu Rey, kok kelihatan kecewa?”
“Yo, saya sudah mengungkapkan perasaanku pada Lara”
“Bagus dong Rey”
“Tapi dia cuma diam Yho, saya malu dia langsung berlari meninggalkan ku”
Setelah mendengar cerita Rey, Thiyo memberikan semangat kepada Rey dan meyakinkannya bahwa tidak hanya satu perempuan di dunia ini. Rey pun mencoba untuk bangkit kembali dan berusaha tegar bahwa Lara memang bukan untuknya.
Kemudian Rey bergegas pulang ke rumahanya dan menuju kamar. Rey berfikir dan terus bolak-balik dalam di depan tempat tidurnya, dan tidak menghiraukan panggilan-panggilan ibunya yang menyuruhnya untuk turun makan malam. Rey pun bertekad untuk menulis di kertas tentang Lara dan ia akan memberikannya pada Lara.
Isi surat...
Kebahagiaan ini semua buatmu Lara, kamu adalah orang yang patut untuk itu. Semua kenangan tentang dirimu akan selalu ada di lorong-lorong pikiranku. Dan itu akan membimbingku untuk selalu menjadikan hati ini sebagai tanah subur bagi yang namanya CINTA...
Pagi harinya, surat yang ditulis Rey diberikan kepada Thiyo. Di sekolah, Thiyo mencari-cari Lara. Tetapi, tak kunjung dia lihat hingga akhirnya dia melihat Lara duduk dibawah pohon. Kemudian Thiyo bergegas menghampirinya.
“Ra, apa yang sedang kamu lakukan disitu sendirian?” Tanya Thiyo sambil memegang surat Rey
“Tidak kok, saya hanya lagi memikirkan Rey yang setiap kali bertemu, dia begitu gugup dan tak  mau menceritakan alasannya” jawab Lara yang sedang memegang buku.
“Oh iya, tadi pagi Rey memberikan saya Surat untukmu. Ini suratnya” Thiyo memberikan surat Rey dan bergegas pergi
Kemudian Lara membuka Surat dan membaca surat Rey. Lara Cuma merasa kagum dan dan terharu, Lara menyesal baru tahu ini semua setelah Rey pergi dari sekolah itu. Entah Rey kemana
Sekarang Rey hanyalah akan jadi bayang-bayangnya.

Karya :
FAMRI RUSDIN
NISN. 9962612894


Kecewa

Cerpen : Aitakatta Ayana, Aku Rindu !

Written By Kaharuddin Syam on Selasa, 10 Juni 2014 | 06.54.00



Hembusan angin menggaum harum hingga menenteramkan akalku. Amat sejuk dan menenangkan. Kamu pasti juga menyukai kalau merasakannya. Kemudian, tak tahu kenapa aku mulai tertegun, hatiku terpukul oleh suatu perasaan yang tidak kuketahui dari mana datangnya : dari “Twitter” ataukah “Hitam Putih” yang pasti kamu ketahui ketika kamu tampil di layar kaca melalui acara tersebut.
Dengan memejamkan mata, perhatianku teralihkan oleh sayu matamu.  Padahal, matamu itu bulat loh menurutku! Aku pun menoleh ke pelosok langit yang luas tapi wajahmu begitu berkesan sehingga terus terbawa. Kamu unik! Kamu adalah makhluk terindah yang diciptakan Tuhan yang makin menggetarkan perasaanku. Karisma campuran memenuhi wajah manismu, kamu setengah Jepang dan setengah  Indonesia ke arab-an.
Ayana Shahab, itulah namamu. Nama yang indah dan manis saat ku dengar dan ku ucap dari bibirku. Sabtu malam sepi itu, aku menoleh kembali ke layar kaca televisi. Aku tak sabar ingin melihat wajah dan senyummu yang dapat mengalihkan duniaku. Tapi, apa daya tak satu pun acara TV yang menampilkanmu. Hatiku terasa gundah gulana tak melihatmu malam itu.
Aku sempat merasa putus asa, tak dapat ku lihat dirimu. Tapi, aku melirik ke arah laptopku yang penuh debu. Aku mengambil modem kecilku dan mulai ku cari identitasmu. Hingga akhirnya ku menemukan alamat twittermu dengan akun yang unik @achanJkt48. Iya memang, Achan itu nickname mu kan Ayana? Aku tersenyum saat melihat beberapa postingan  yang kamu publish di jejaring sosialmu itu. Satu hal yang aku tahu, kamu ternyata pribadi yang doyan tidur yang ingin menjadi perfeksionis. Hal tersebut membuatku tertawa.
 “ Ada-ada saja! orang doyan tidur mau jadi perfeksionis. Mungkin gak ya?  Kamu kebanyakan mimpi kali. Hehee”, sambil kuberkata dalam hati.
Tapi harus ku akui kamu memang menuju ke arah itu. Soalnya, kamu kan masih remaja udah terkenal seantero Indonesia bahkan di Jepang pun demikian. Ditambah Usaha yang lebih giat lagi, kamu pasti bisa mewujudkan impianmu itu.
Selasa ini, kamu akan tampil di Pulogadung Trade Centre. Aku diajak nih sama temanku kesana. Sejam lagi, Jkt 48 akan tampil. Ku bakalan coba menemuimu di backing stage. Tapi kayaknya sulit sekali, terlalu banyak bodyguard disana. Menunggu menit lagi nih, kamu bakal tampil. Kini, kamu dan temanmu beranjak keluar dari ruang tata rias dan berjalan menuju panggung. Ku perhatikan satu per satu yang keluar.
Akhirnya aku bisa melihatmu Ayana, entah doi lagi tersenyum ke aku atau penggemar lain. Positive thinking aja deh, itu kan udah kerjamu tiap detik pun harus tersenyum. Orang kamu itu anggota Idol Group.
Penampilanmu benar-benar spekta. Aku terkagum-kagum bukan main. Tanpa sadar aku bersorak Ayana ! Ayana ! I Love You ! Waduh ku kecoplosan, tapi tidak masalah, kan penonton yang lain berbuat hal serupa. Tanpa membuang waktu, aku langsung menjepret setiap apa yang kamu lakukan saat itu.
Setelah penampilan itu, ternyata ada semacam jumpa fans yang memberi peluang bagi para penggemar Jkt 48 untuk berjabat tangan dengan idolanya. Aku sih lebih suka menyebutnya “shakehands with member Jkt 48”. Hatiku sangat gembira, aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
 Kebetulan, sebelum kesini aku udah menyempatkan sebuah foto. Itu sih fotoku yang udah aku edit sehingga bakalan menarik kalau kamu liat, ditambah dibelakang foto itu aku udah nambahin identitasku. Sebuah alamat twitterku yang udah kutulis “follow me Achan ! :)” .
Hal itu memang terkesan norak, tapi dibanding yang lain, yang cuman bisa nyontek buat bikin fanletter & nyempetin diri mereka buat ngirim sejenis boneka favoritmu. Selain itu, mereka kan harus nitip barang-barang itu ke tempat penitipan barang fans ke member Jkt48.  Kalau dipikir-pikir, itu kan butuh waktu yang agak lama untuk jadi orang pertama yang bisa kamu lihat surprise-nya.
Tak terasa waktunya pun dimulai, kini tiba giliranku dan teman-temanku untuk diajak berjabat tangan dengan member Jkt 48. Akhirnya, aku bakalan bisa untuk merasakan hangat tanganmu. Aku sih nahan diri agar gak kelihatan nafsu ketika shakehand dengan kalian. Selama ini kan kalau dilihat hasil ekspos yang ada di dunia maya, banyak tuh yang amat nafsu ketika lagi shakehand dengan kalian.
Setelah selesai berjabat tangan dengan member lain, kini giliran kita saling berhadapan, kita pun saling menatap dan kini aku makin mengerti kenapa kamu bilang matamu itu sayu. Ketika ku perhatikan pipimu itu juga tembem yang makin menggelorakan setiap yang memandang.
“Ayana, maaf  ya. Aku punya sesuatu untukmu Hozon shite kudasai (tolong disimpan ya)?” bisikku sembari memberinya foto ketika kami berjabat tangan.
“Iya, makasih ya!  suteki desu ne (bagus kok)” sambutnya hangat.
Tak kusangka ternyata dia mau menerima pemberianku, aku harap dia menyimpannya karena menganggap itu sesuatu yang kreatif yang belum penggemar lain lakukan.
“Alhamdulillah, Ya Allah semua ini karena kehendak-Mu” ku panjatkan syukur setelah kejadian itu.
Sungguh hari yang luar biasa, aku bisa bertatap muka dengan mu sore ini. Rasa sakit saat berhimpitan dengan penonton yang lain pun terbayarkan. Alhamdulillah Ya Raab.
***
Beberapa hari setelah tampil live performance tersebut, aku tak banyak mendengar kabar tentangmu baik di media maupun di jejaring sosialmu. Akan tetapi patut ku syukuri, kamu ternyata sempat untuk memfollback ku di jejaring sosialmu.
Seminggu telah berlalu, kini kamu terasa menghilang tanpa jejak. Waktu terasa lama sekali rasanya, hari-hari yang aku jalani tanpamu. Meskipun hanya seminggu saja aku sangat berat. Aku ingin segera bertemu kamu lagi, aku sungguh aitakatta sama kamu, Ayana.
Apa yang kunanti datang juga, sebuah kabar tentang kamu muncul juga di infotaimen. Aku merasa legah, tetapi sesaat setelah itu aku kaget tak terbayang. Ternyata! Selama seminggu ini kamu mengurus pengunduran dirimu dari JKT 48. Aku tak tahu harus berkata apa? Selama ini kamu kan aku kenal juga dari JKT 48. Dari kabar tersebut, tidak juga dijelaskan alasan konkret keputusanmu itu. Kabar yang ditayangkan media infotainment itu pun masih simpang siur.
“Emang apa sih yang membuat kamu resign?” tanyaku dalam hati.
Usut punya usut, akhirnya kuketahui juga alasannya. Beberapa saat setelah beritamu itu muncul di media. Aku coba lagi membuka laptopku yang berdebu itu. Setelah kubuka jejaring sosialmu, akhirnya ku temukan sebuah postingan yang mengacu kepada alasan resignmu itu. Ternyata ! Kamu ingin pindah ke Jepang? Status tersebut berbunyi seperti ini :
“Maaf nih teman-teman, ini memang terkesan terburu-buru dan ceroboh . Tapi beneran! aku bakalan lanjutin sekolahku di Jepang. Soalnya, disana aku gak bakal sendiri loh ! Disana itu aku udah kakak yang lama kuliah disana. Dia kak Zaky !” salah satu statusnya.
Hatiku semakin tak menentu, bukan karena kamu ingin ke Jepang. Sebenarnya sih, aku tetap setuju loh kamu kesana. Itu kan demi kebaikanmu juga. Apa yang kamu pilih itu kan sudah kamu pikir masak-masak, bukan? Semoga yang kamu putuskan adalah yang terbaik buatmu.
Hatiku gundah hal ini sangat berkaitan erat dengan beberapa kata dari status terakhirmu itu. Katamu tadi, kamu punya kakak disana? Apa iya kamu selama ini menjalin hubungan dengan orang lain disana atau bagaimana? Padahal selama ini kamu itu kan diikat dengan aturan menajemenmu.
“ Waduh galau nih, Ah Enggak ah ! positive thinking aja deh!”  harapku semoga itu salah.
Semenjak itu, aku pun merasa mengenal kamu itu sesuatu yang indah tak pernah berfikir akan melewati masa yang panjang, berliku dan rumit. Kebahagian dan kesakitan melengkapi namun sesuatu yang masih ku kenang saat ini dan entah akan hilang dan tak berbekas sampai kapan, biarlah waktu yang berjalan akan menjawabnya.
***
Hari berganti hari, aku belum bisa melupakanmu. Berhubung dengan hari ini aku akan mengantar adikku untuk mendaftar ke sebuah TK swasta. Aku sudah mempersiapkan pakaian terbaikku. Aku pun berjalan bersama adekku ke TK tersebut.
Setelah tiba disana, aku melihat seorang guru TK yang sangat mirip denganmu Ayana. Singkat cerita, ternyata setelah aku bercakap-cakap dengan ibu tersebut. Suaranya terasa aneh karena logat yang digunakkan kental dengan suara orang Jepang. Apakah mungkin dia Ibumu Ayana?
Aku pernah membaca kisah yang kamu utarakan mengenai anak-anak TK. Kamu suka sekali dengan anak TK dan Ibumu itu kan guru TK katamu. Aku pun memberanikan diri bertanya kepada ibu guru tersebut tentangmu Ayana. Ternyata benar, dia ibumu. Aku pun tak percaya, hatiku sungguh berbunga-bunga. Setelah berhasil bertemu denganmu, kini aku juga bisa menemui ibumu.
Akan tetapi, kegundahan belum bisa hilang dari benakku. Aku kini teringat mengenai seseorang yang pernah kau sebut. Ya, Zaki. Dengan malu-malu aku tanyakan kepada ibumu.
“Bu, maaf. Kalau boleh tahu Ayana itu di Jepang tinggal sama siapa?” tanyaku.
“Oh, Achan itu tinggal sama kakak-kakanya. Kakaknya yang paling gede namanya Zaki, yang kedua Sakina” jawab ibunya.
“Wah, aku salah kaprah nih” dalam hati yang kini gembira.
“Oh begitu, makasih ya bu! Aku sungguh berharap bu, dia bisa berhasil dan mencapai cita-citanya. Tapi aku bisa nitip salam ya dengan Ayana. hehe ganbatte bu, ganbatte juga Ayananya !”  harapanku.
“Iya ganbatte juga buat kamu, buat kuliahmu juga kan di UI! Tapi, kamu ini suka ya sama dia!” balas ibunya.
“Ehemm, iya bu (dengan malu). Aku fans loh sama dia bu! Aku pamit dulu bu, aku ada jam kuliah. Osaki ni, shitsurei shimasu.(aku pamit)” hatiku sungguh bahagia.
“ Ki o tsukete kudasai (hati-hati ya). Nanti aku titip salammu nak,  ke Ayana.” janji Ibunya.
Aku memang telah belajar sedikit bahasa Jepang dan kini aku kuliah di UI. Subhanallah, semua ini serasa mimpi yang terus menjadi nyata. Aku sungguh bersyukur, tetapi aku harus selalu ingat ini semua ini juga kehendak Allah. Satu hal yang pasti kutunggu, aitakatta Ayana. Aku ingin sematkan bintang di dahimu, agar kamu tahu betapa besar rasa rinduku padamu.
*****

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. WEBSITE RESMI AKSELERASI SMA NEGERI 2 PAREPARE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger